Ulas Tuntas Tentang Kesultanan Cirebon yang Penuh Cerita Masa lalu

You are currently viewing Ulas Tuntas Tentang Kesultanan Cirebon yang Penuh Cerita Masa lalu

Sebagai kota yang kaya akan sejarah dan budaya, Cirebon memiliki pesona yang tak lekang oleh waktu. Salah satu peninggalan paling berharga yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu adalah keberadaan empat keraton megah. Artikel ini akan mengajak Anda menyingkap lebih dalam kisah dan keunikan dari Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabonan, yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi pusat spiritual serta budaya di Cirebon.

Cikal Bakal Kesultanan Cirebon

Sejarah Kesultanan Cirebon dimulai pada abad ke-15, didirikan oleh Pangeran Cakrabuwana (Raden Walangsungsang), putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Setelah memeluk Islam, ia mendirikan sebuah pemukiman yang menjadi cikal bakal Kota Cirebon. Pada tahun 1430, ia membangun keraton pertama yang dikenal dengan nama Keraton Pakungwati, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan dan penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Kekuasaan selanjutnya dilanjutkan oleh keponakannya, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), yang tidak hanya menjadi pemimpin politik tetapi juga salah satu dari Wali Songo yang sangat berpengaruh. Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan dan dakwah Islam.

Awal Perpecahan dan Campur Tangan Asing

Sejarah panjang Kesultanan Cirebon yang pada awalnya bersatu dan berjaya, harus berakhir dengan perpecahan. Bibit perpecahan mulai tumbuh pada akhir abad ke-17, terutama setelah wafatnya Panembahan Ratu II pada tahun 1677. Perebutan kekuasaan di antara putra-putranya memicu intervensi dari luar, yaitu Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten.

Untuk meredakan konflik, Sultan Ageng Tirtayasa membagi wilayah Kesultanan Cirebon menjadi tiga kekuasaan yang sejajar: Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Panembahan Cirebon. Pembagian ini, yang bertujuan untuk menenangkan situasi, justru menjadi celah bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk menerapkan politik devide et impera (adu domba). VOC berhasil menanamkan pengaruhnya dan secara perlahan melemahkan kekuasaan para sultan.

Perpecahan ini terus berlanjut. Seiring berjalannya waktu, muncul keraton-keraton baru yang memisahkan diri dari induknya. Pada tahun 1808, Pangeran Raja Kanoman mendirikan Keraton Kacirebonan setelah memisahkan diri dari Keraton Kanoman. Kemudian, muncul pula Keraton Keprabonan yang juga merupakan pecahan dari Keraton Kanoman.

Dengan demikian, Kesultanan Cirebon yang pada awalnya bersatu kini terbagi menjadi empat entitas yang berbeda: Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Keprabonan. Masing-masing keraton ini memiliki sejarah, tradisi, dan garis keturunan yang berbeda, meskipun semua berasal dari satu akar yang sama. Hingga kini, keempat keraton tersebut tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah Cirebon.

1. Keraton Kasepuhan

Kraton kesepuhan

Keraton Kasepuhan adalah keraton tertua dan paling bersejarah di Cirebon, menjadi cikal bakal dari keraton-keraton lainnya. Didirikan pada tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuwana, keraton ini awalnya bernama Keraton Pakungwati. Nama Kasepuhan sendiri merujuk pada kata “sepuh” yang berarti tua, menegaskan statusnya sebagai keraton pertama yang didirikan. Setelah Kesultanan Cirebon terpecah, keraton ini dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang bergelar Sultan Sepuh I. Hingga kini, Keraton Kasepuhan masih menjadi pusat kebudayaan dan spiritual yang penting, menyimpan berbagai peninggalan berharga seperti Kereta Singa Barong yang legendaris dan berbagai koleksi benda pusaka. Keberadaannya menjadi simbol kejayaan masa lalu Cirebon yang terus lestari.

Alamat: Jl. Kasepuhan No.43, Kesepuhan, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat 45114.

Jam Operasional:  buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. 

Harga Tiket Masuk: 

  • Tiket Masuk Keraton: Rp15.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
  • Tiket Masuk Museum: Rp15.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).
  • Paket Komplit (Keraton + Museum): Rp20.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).

2. Keraton Kanoman

Kraton kanoman

Tempat ini adalah keraton yang didirikan setelah terjadinya perpecahan di Kesultanan Cirebon. Keraton ini merupakan pecahan dari Keraton Kasepuhan. Kata Kanoman sendiri berasal dari kata “anom” yang berarti muda, menjadikannya sebagai keraton yang lebih muda dibandingkan Kasepuhan. Didirikan pada tahun 1677, keraton ini dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya yang bergelar Sultan Anom I. Keraton Kanoman juga memiliki peran penting dalam menjaga tradisi dan budaya Cirebon, terutama dalam perayaan adat seperti Grebeg Syawal.

  • Alamat: Jl. Kanoman, Pekalipan, Kec. Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45117.
  • Jam Operasional: Buka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB.
  • Tiket Masuk: Rp10.000 (harga dapat berubah sewaktu-waktu).

3.Keraton Kacirebonan

Kraton kacirebonan

Keraton Kacirebonan adalah salah satu dari empat keraton yang ada di Cirebon, didirikan setelah terjadinya perpecahan yang lebih lanjut. Berbeda dengan Kasepuhan dan Kanoman, keraton ini merupakan pecahan dari Keraton Kanoman. Didirikan pada tahun 1808 oleh Pangeran Raja Kanoman, keraton ini memiliki peran unik dalam sejarah Cirebon sebagai pusat dari keluarga kerajaan yang memilih memisahkan diri. Meskipun bukan keraton tertua, Kacirebonan tetap memegang teguh tradisi dan adat istiadat, serta menjadi saksi bisu dinamika politik keluarga keraton di masa lalu.

  • Alamat: Pulasaren, Kec. Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45116.
  • Jam Operasional: Informasi jam operasional tidak selalu tersedia secara publik, namun biasanya terbuka untuk kunjungan pada jam kerja normal. Sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu sebelum berkunjung.
  • Harga Tiket Masuk: Biasanya tidak dikenakan tiket masuk, namun pengunjung dapat memberikan sumbangan sukarela.

4.Keraton Keprabonan

Keraton kaprabonan

Keraton Keprabonan adalah keraton terkecil di Cirebon dan menjadi bukti perpecahan yang paling akhir dalam sejarah kesultanan. Berbeda dari keraton lainnya yang memiliki gelar sultan, pemimpin Keprabonan memiliki gelar Prabuan. Keraton ini didirikan sebagai pecahan dari Keraton Kanoman dan tidak memiliki status politik atau wilayah kekuasaan seperti keraton utama lainnya. Meskipun begitu, Keraton Keprabonan tetap berperan penting dalam menjaga garis keturunan dan tradisi, terutama sebagai tempat tinggal keluarga ningrat. Keberadaannya melengkapi cerita sejarah perpecahan Keraton Cirebon.

  • Alamat: Jl. Jend. A. Yani, Pekalipan, Kec. Pekalipan, Kota Cirebon, Jawa Barat 45117.
  • Jam Operasional: Informasi jam operasional tidak selalu tersedia secara publik dan lebih sering dibuka untuk acara atau kunjungan khusus. Sebaiknya konfirmasi terlebih dahulu jika Anda ingin berkunjung.
  • Harga Tiket Masuk: Tidak ada tiket masuk resmi, biasanya hanya dibuka untuk tamu atau acara tertentu.

Gunakan Jasa Naba Rent Car Saat Wisata yang ada di Cirebon

Setelah puas menjelajahi keindahan empat keraton yang menjadi saksi bisu sejarah, perjalanan wisata Anda di Cirebon tentu akan terasa lebih berkesan dan nyaman. Bersama Naba Rent Car, Kami sediakan unit dari mulai city car, family car, sampai big mpv. Dan berlokasi di  Jl. Intan I, Larangan, Kec. Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat 45141. nikmati kemudahan transportasi yang aman dan profesional untuk setiap destinasi. Jadikan Cirebon sebagai kenangan tak terlupakan, di mana sejarah, budaya, dan kenyamanan bertemu dalam satu perjalanan. Sampai jumpa di Cirebon!

HUBUNGI KAMI

WhatsApp / Call

Follow Us